Minggu, 22 Februari 2015

Puisi


LUKISAN JANTUNG
kepada suramadu

mengubur kalah:
mungkin dengan lelapan; atau berlari ke arah
gang-gang menuju rumahmu ––agar sampai
isyaratku ke ujung kiri rambut di lehermu

batu dan bambu menunggu angin;
dan getar perasaan yang pernah jadi milikku:
adalah sandiwara kupu-kupu; siang dan malam
yang menggelayut di pundakku

disaat debu mematung;
maut dan kamar berdegup hari lain
kunang-kunang tidur;
bermimpi selat dan besi yang berat

saat jantungku dalam pelukmu makin berujung;
ia hampir sama dengan siasat

   (siasat waktu yang melirikkan lagu; kisah hujan
yang menerpa batu; di kemiringan belas kasih
hidup yang baru)

seperti kecemasan dan hati-hati; seperti jalan
benderang dari buah sayang; seperti kesadaran
yang terbang menjulang—orang-orang melayang-
layang

: dan kau; dan ilalang; sama-sama memanjang

[Bangkalan, Juni 2010]

Puisi


 KESEPIAN TIDUR

seandainya aku batu di tanah yang luas
dan berselimut; hari pasti terbuka ke dasar
jantung ––
tempat kau memekarkan hujan tanpa payung

maut;
serupa dingin di atas lantai; bayangan sempurna
jadi pusar; dan kita ditelan selimut

: aku menandai dadamu; di titik pahit paling lemah
dari sudut tidurku malam nanti

[Bangkalan, Juni 2010]